• Forum MP

    Akhirnya setelah sekian lama, fasilitas forum komunitas Perguruan Pencak Silat Merpati Putih sudah bisa mulai digunakan.

    Read More
  • Password Anggota

    Karena terjadi beberapa perbaikan di system maka password anggota yang sudah registrasi kami reset ulang. Adapun password yang baru telah kami kirimkan via e-mail ke alamat masing-masing.

    Read More
  • Maintenance Website

    Dalam beberapa hari ini telah diadakan maintenance website sehingga untuk beberapa hari website tidak bisa diakses. Sekali lagi kami mohon maaf

    Read More
Sabtu, September 04, 2010
Text Size
   

Login Anggota

Live Support

TS:
CS:

Statistik Pengunjung

0 member(s) and 7 guest(s)
665 Total Registered
0 today
3 this week
3 this month
Last: ervan_smansev
 

Facebook

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini408
mod_vvisit_counterKemarin446
mod_vvisit_counterMinggu ini3130
mod_vvisit_counterMinggu lalu2541
mod_vvisit_counterBulan ini1905
mod_vvisit_counterBulan lalu10006
mod_vvisit_counterTotal166118

IP: 38.107.191.113
,

Paypal Donate

Page Rank

Acara Tradisi Merpati Putih PDF Cetak E-mail

         A. Tradisi

Tradisi adalah pelestarian sejarah keilmuan Merpati Putih. Tradisi pertama kali dilaksanakan pada tahun 1971 menjelang pergantian tahun baru jawa yaitu menjelang 1 Suro. Kemudian berganti menjadi tanggal 31 Desember menjelang tanggal 1 Januari, dan kemudian akhirnya Tradisi kembali ditetapkan pelaksanaannya pada bulan Suro atau Muharram.

        B. Prosesi Acara Tradisi

Acara Tradisi diawali pembukaan di alun-alun selatan dengan acara perguruan kemudian berangkat menuju Parangkusumo yaitu salah satu pantai di Yogyakarta.

Pelaksanaan Tradisi pertama kali (1971) diberangkatkan dari Bumijo pada pagi hari yang diikuti sekitar 50 orang dari Cabang Yogyakarta sendiri. Perjalanan dari Bumijo-Parangkusumo ini ditempuh dengan berjalan kaki pulang pergi. Dalam perjalanan menuju Parangkusumo mereka menyeberangi arus Kali Opakkarena pada waktu itu belum ada jembatan kretek. Pada bulan Desember 1978 dalam perjalanan melewati arus kali opak yang cukup deras karena musim penghujan Mas Poeng menunjuk lima (5) anggota untuk mencari rute jalan dalam melintasi Kali Opak, tapi menjelang ujung sungai terjadi musibah, tiga (3) dari 5 (lima) orang pemandu jalan tersebut terseret arus Kali Opak. Dari ketiga orang tersebut duya orang bisa diselamatkan dan satu orang , yaitu Mas Ginanto hilang terseret arus Kali Opak dan tidak dapat diketemukan, meskipun sudah dilakukan pencarian dengan menyusuri Kali Opak samapi Laut Selatan dan menurunkan Marinir Amphibi (KIPAM : Komando Inti Para Amphibi) dari Surabaya dan anggota-anggota RPKAD/KOPASSUS dari Grup II Kartosuro yang kebetulan pada waktu itu ikut acara Tradisi dan dibantu sepenuhnya oleh Tim SAR dan Pecinta Alam DIY.

Oleh karena itu dalam acara Tradisi selanjutnya tidak melewati Kali Opak dan naik kendaraan dengan memutar lewat jembatan Siluk dan turun di kaik gunung Botak, kemudian berjalan melewati gunung Botak menuju Pantai Parangkusumo. Perjalanan melewati Gunung Botak ini sebagai pengganti rute perjalanan Yogya-Parangkusumo. Dan dalam acara-acara selanjutnya, sebelum melewati Gunung Botak selalu diadakan acara Tabur Bunga di Kali Opak guna mengenang Mas Ginanto yang hilang di Kali Opak pada waktu itu.

Dalam pelaksanaan Tradisi sekarang, setelah acara pembukaan peserta dibagi menjadi dua. Rombongan pertama terdiri dari Pewaris, Senior, dan Perwakilan Cabang-cabang mengadakan acara Nyekar ke makam Bapak Saring HP (Sang Guru) dan Ibu Saring HP di Ngulakan Wates, Kulon Progo. Sedangkan rombongan kedua, Tabur Bunga di Kali Opak. Kedua rombongan akhirnya bersama-sama melintasi gunung Botak menuju Parangkusumo.

Prosesi selanjutnya setelah sampai di Parangkusumo, seluruh peserta melakukan Jamasan dimana tersedia tiga kuali yang berisi air bersih, air merang ketan hitam, dan air bunga. Air Merang dimaksudkan sebagai pembersihan diri seluruh peserta dan Air Bunga sebagai pengharu, sehingga dengan berbekal kebersihan diri seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian acara Tradisi dengan hati, jiwa dan pikiran yang bersih.

       C. Acara Inti Tradisi

Tradisi pertama kali dilakukan dengan tiga acara, yaitu:

Menghantar Matahari Terbenam

Dengan refleksi dari seluruh peserta Tradisi dimana kita sebagai seorang yang beragama cipataan Tuhan dengan seiring terbenamnya matahari, seluruh peserta merenung melihat kedalam diri kita, kekurangan-kekurangan kita itu seiring dengan terbenamnya matahari serta mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kenikmatan yang telah diberikan-Nya selama satu tahun.

Renungan Malam

Renungan malam dilakukan menjelang tepat pukul 00.00 WIB atau tengah malam yang pada intinya yaitu mempersiapkan diri menuju hari yang lebih cerah dengan kebersihan diri.

Menyambut Mathari Terbit

Pada intinya menyambut matahari terbit dimaksudkan sebagai refleksi diri kita untuk dapat menapaki hari esok lebih baik dari hari kemarin. Seiring munculnya matahari dari ufuk timur, maka bersama itu pula kita siap menghadapi hari ini dan selanjutnya dengan lebih baik dan bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Acara Tradisi Merpati Putih pertama kali dilakukan yaitu menjelang pergantian tahun baru. Tetapi Tradisi sekarang ini tidak dilakukan pada tanggal 1 Suro atau 1 Januari dikarenakan kondisi pada saat tanggal-tanggal tersebut , di Parangkusumo banyak masyarakat pendatang yang memenuhi areal Parangkusumo untuk merayakan acara Tahun Baru Jawa maupun Masehi. Sehingga bila tetap dilaksanakan pada tanggal tersebut akan mengurangi atau mengganggu kekusyukan acara inti tersebut.

Untuk acara Tradisi sekarang setelah renungan malam acara dilanjutkan dengan perjalanan malam atau napak tilas ketujuh tempat, dimaksudkan sebagai uji kesiapan fisik dan mental dari peserta Tradisi dalam menempuh perjalanan yang pernah dilakukan Dewan Guru dan Senior. Ketujuh tempat tersebut yaitu:

1. Sawangan/tempuran;

2. Papan Suwung;

3. Parangkusumo;

4. Parangtritis;

5. Parangendog;

6. Gua Langse;

7. Makam Syeh Maulana Maghribi dan Syeh Belabelu.

Dalam rangkaian menghantar matahari terbenam dan menyambut matahri terbit selalu diawali dengan dan diakhiri dengan Garuda Beteng yang mempunyai maksud membentengi diri kita dari gangguan yang tidak kita inginkan serta factor-faktor negatif dari alam, karena dalam Garuda Beteng tersebut dilakukan dialam terbuka. Disini sebenarnya Garuda Beteng sebagai visualisasi doa mohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi Tradisi intinya melakukan rangkaian ketiga acara tersebut, sedangkan acara-acara yang lain adalah sebagai pendukung dari prosesi acara inti tersebut.

Minum Air Tujuh (7) Sumber

Air 7 sumber mempunyai rasa dari kandungan yang berbeda-beda dan Gentong yang dipergunakan berasal dari tanah liat yang dikumpulkan perwakilan cabang-cabang diseluruh Indonesia, yaitu aceh sampai Irian Jaya (Papua Barat).

Makna yang dapat ditangkap adalah Tradisi merupakan wadah pertemuan bagi seluruh anggota Merpati Putih yang berbeda status, latar belakang budaya dan sebagainya, setelah bertemu ditempat dan waktu yang sama menyatukan hati dan pikiran demi persatuan dan kesatuan yang erat antar anggota Merpati Putih walaupun terpisah oleh jarak dan waktu.

Secara ilmiah air dari 7 sumber mengandung bahan-bahan/kandungan mineral yang berbeda maka kandungan tersebut akan saling melengkapi sehingga terpenuhi semua kebutuhan unsur-unsur tubuh, demikian pula anggota Merpati Putih antara satu dengan yang lain saling mengisi kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga tercipta kesatuan dan kekuatan anggota Merpati Putih.

Angka 7 dalam filosofi jawa, angka ganjil dipakai untuk menggenapi angka ganjil yang lain. Makna yang dapat ditangkap sama pula dengan harapan agar antar anggota Merpati Putih saling melengkapi satu dengan yang lain.

Tinjauan Dari Sudut Keorganisasian

Dilihat dari sudut keorganisasian tujuan Tradisi adalah:

Pertemuan dan koordinasi Dewan Guru, senior, anggota dan pengurus Merpati Putih yang waktunya sudah ditentukan untuk dapat berkoordinasi antara cabang dan konsultasi keilmuan dengan Dewan Guru, sehingga diharapkan semua cabang mengirimakan anggotanya atau perwakilannya.

Pertemuan dan silaturahmi dari seluruh anggotanya untuk dapat saling kenal dan tukar pengalaman.

Pelantikan kenaikan tingkat tertentu dan ujian kenaikan tingkat tertentu, latar belakangnya yaitu menjamin persatuan kesatuannya khusunya dimulai tingkat tertentu dan akhirnya terjalin persatuan seluruh anggota.

Penyeragaman gerak dari seluruh rangkaian tata gera gerak yang diajarkan, sehingga secara nasional tidak ada perbedaan yang mendasar dari materi tata gerak.

Presentasi perkembangan keilmuan dari ilmu Merpati Putih memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang sehingga bila ada perkembangan dapat diungkapkan dan dikonsultasikan dengan Dewan Guru dalam acara Tradisi.

Seluruh rangkaian acara Tradisi ditutup dengan acara perguruan yang sebelumnya diawali dengan pelepasan sepasang burung Merpati oleh Dewan Guru.

 




Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

 

Sekilas Info

Pada tanggal 22 Juni 2009 akan diadakan acara seminar dengan judul “PERSPEKTIF KEBANGSAAN DALAM MEMBANGUN NKRI BAGI GENERASI MUDA KINI” yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Merpati Putih Universitas Mercu Buana. Acara dilangsungkan dari jam 08:00 - 16:00 WIB. Untuk keterangan lebih lanjut bisa dilihat di blog MP.

Kantor Pusat

Gelanggang Remaja Jakarta Timur
Jl. Otto Iskandardinata Raya No. 121 Jakarta Timur
Telp. : 021 - 859 06068
RocketTheme Joomla Templates